Nabire PT – Papuapatrolie-news.com, Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Papua Tengah, Jennifer Darling Tabuni, memberikan klarifikasi resmi terkait beredarnya voice note kontroversial di sejumlah grup WhatsApp pada Jumat 14 Desember 2024.
Berikut isi rekaman Suara yang Beredar di Grup WhatsApp yang berdurasi 2 menit 41 detik:
“Selamat pagi untuk kita semuanya. Undangan itu dari Sem Nawipa, bukannya kemarin dia kena kasus tangkap tangan uang suap? Kenapa masih dipakai dia lagi? Ini boneka atau permainan? Tolong batalkan! Bilang, kemarin Kapolres Paniai sudah menangkap tangan Sem Nawipa dengan Sisilia Mote. Apakah mereka masih harus memimpin lagi? Bukannya sudah seharusnya di-PAW?
Sisilia Nawipa itu tidak benar. Batalkan pleno kalau mereka yang memimpin. Karena itu tidak sesuai dengan aturan, sudah melanggar kode etik! Demokrasi sudah tidak ada di kubu mereka. Itu manusia-manusia iblis! Malunya tidak ada. Batalkan mereka! Kenapa mereka masih muncul?
Bukannya KPU Provinsi Papua Tengah bisa mengganti? Jangan pakai lagi semua yang bermerek Nawipa. Semua sudah dibayar, sudah tidak jelas, dan tidak dipercaya lagi oleh masyarakat Paniai. Jadi, bilang kepada Ketua KPU Papua Tengah, kita tidak pakai semua yang berkaitan dengan Sem Nawipa. Ganti!
Sem Nawipa sudah diduga terlibat suap dan ditangkap tangan, masa masih diberikan kesempatan lagi? Itu tidak benar. Harus diberikan skorsing, bukan dia yang memimpin lagi karena sudah ketahuan. Jadi, tolong langsung dibatalkan saja.
Orang-orang ini seperti tidak punya mata atau pikiran. Semua sampai ke tingkat KPU RI sudah tahu, tapi masih dibiarkan mereka memimpin. Ada apa ini? Batalkan saja. Baik, itu masukan saja, nanti kita kembali sama-sama lihat kejadian yang terjadi sampai saat ini.
Memalukan sekali untuk Paniai, terutama KPU Paniai. Saya mendesak agar Bawaslu segera memberikan surat tanggapan. Surat tersebut harus ditanggapi dan dilaksanakan sesuai aturan yang diajukan dari Bawaslu. Selesaikan dulu, tanggapi dulu, baru dibawa ke pleno.”
Ketua KPU Papua Tengah, Jennifer Darling Tabuni dengan tegas membantah bahwa voice note tersebut berasal darinya. “Saya mau menyampaikan bahwa itu bukan rekaman suara saya, bukan rekaman suara Ketua KPU Provinsi Papua Tengah. Saya tidak mungkin mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan atau tidak manusiawi untuk rekan sekerja saya, terutama teman-teman KPU di tingkat kabupaten atau PPD,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Jennifer juga menekankan bahwa rekaman suara tersebut dapat merusak citra KPU sebagai lembaga penyelenggara pemilu yang netral dan profesional. “Bagi yang menyebarkan, tolong bertanggung jawab dan menjelaskan baik-baik, karena ini menyangkut lembaga. Jangan sampai informasi seperti ini merusak kepercayaan publik,” tegasnya.
Selain itu, ia meminta media dan masyarakat untuk membantu meluruskan informasi yang salah. Jennifer juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas KPU di tengah proses demokrasi yang sedang berlangsung.
Meskipun adanya isu ini, Jennifer memastikan bahwa proses pleno untuk Paniai dan Intan Jaya tetap berjalan sesuai jadwal dan prosedur. “Hari ini rencana penyair pleno Paniai dan Intan Jaya tetap dilaksanakan. Mohon semua pihak dapat mengawal jalannya proses ini dengan baik,” tutupnya. (Red)