Lewat FGD, Pemprov Papua Tengah Mantapkan Kurikulum Berbasis Budaya dan Kesehatan

Nabire, PT – Papuapatrolie-news.com, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Papua Tengah menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Deep Learning Pengembangan Muatan Lokal pada Pembelajaran Mendalam, yang berlangsung di Ballroom Nabire, Sabtu (23/8/2025).

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Penjabat Sekretaris Daerah Papua Tengah, Silwanus Sumule, mewakili Gubernur Papua Tengah. Forum strategis tersebut dihadiri unsur pemerintah daerah, tenaga pendidik, tokoh adat, tokoh masyarakat, akademisi, hingga pemangku kepentingan lainnya.

Dalam sambutannya, Pj Sekda menegaskan bahwa muatan lokal memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda Papua Tengah.

 “Forum ini bukan sekadar agenda rutin, melainkan langkah strategis untuk memastikan pendidikan di Papua Tengah tumbuh dari akar budayanya sendiri. Muatan lokal adalah denyut nadi yang menjaga identitas anak-anak kita agar tidak tercerabut dari budaya. Melalui muatan lokal, kita menanamkan bahasa daerah, nilai kearifan lokal, serta filosofi hidup yang membimbing generasi muda menghadapi derasnya arus globalisasi,” ujar Silwanus.

Ia menambahkan, muatan lokal bukanlah pelengkap, melainkan bagian integral dari kurikulum pendidikan yang berfungsi menanamkan serta mengembangkan nilai budaya, bahasa daerah, kearifan lokal, dan potensi wilayah.

FGD ini juga menjadi momentum menyatukan persepsi sekaligus merumuskan kebijakan terkait materi muatan lokal yang relevan, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan daerah. Proses tersebut menuntut kolaborasi erat antara pemerintah daerah, guru, tokoh adat, masyarakat, hingga akademisi.

Selain soal pendidikan, forum turut menyinggung isu kesehatan, khususnya kesadaran tentang penanganan HIV. Nilai kearifan lokal disebut dapat diintegrasikan dengan pemahaman kesehatan yang benar agar masyarakat lebih siap menghadapi tantangan sosial.

“Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat tercapai beberapa tujuan, antara lain identifikasi potensi lokal yang dapat diangkat dalam pembelajaran, perumusan strategi integrasi muatan lokal ke dalam kurikulum pendidikan, serta penyusunan langkah konkret implementasi muatan lokal di sekolah.”

Menutup kegiatan, Pj Sekda menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat.

 “Mari kita jadikan FGD ini sebagai pijakan awal untuk memperkuat identitas pendidikan Papua Tengah yang berakar pada budaya, namun tetap terbuka pada perkembangan zaman. Semoga hasil diskusi ini bermanfaat bagi dunia pendidikan dan generasi masa depan Papua Tengah,” pungkasnya. (Red) 

Pos terkait