Namlea – Papuapatrolie-news.com, Sabtu 8 Maret 2025, Longsor di kawasan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) Gunung Botak, areal Kapuran, Kabupaten Buru, kembali menelan korban jiwa. Peristiwa ini terjadi akibat pergeseran tanah yang dipicu hujan deras selama beberapa hari terakhir, menyebabkan tanah bekas galian yang sudah lama ditinggalkan penambang runtuh dan menimbun sejumlah tenda serta kios milik penambang.
Kejadian nahas ini berlangsung pada pukul 05.30 WIT. Saat longsor terjadi, beberapa penambang tengah beristirahat setelah makan sahur. Derasnya air bercampur lumpur membuat mereka tidak sempat menyelamatkan diri.
Dari data yang dihimpun, korban jiwa dalam insiden ini meliputi satu keluarga pemilik kios makan, yakni Isra (suami), Salbia (istri), Amar (anak), serta Asni (tukang masak). Mereka diketahui merupakan warga Maluku Utara. Selain itu, tiga penambang lainnya juga menjadi korban, yaitu Badu asal Ternate, Mashindra asal Jawa yang merupakan suami dari Yati (warga Ternate), dan Judin asal Manado.
Pasca longsor, para penambang lainnya segera melakukan pencarian dan berhasil menemukan seluruh korban yang tertimbun. Jenazah kemudian dievakuasi melalui jalur Anahony dan disemayamkan di Masjid Desa Dava, Kecamatan Waelata. Lima korban dari satu keluarga dipulangkan ke daerah asal untuk dimakamkan, sementara dua korban lainnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Dava.
Salah satu keluarga korban yang ditemui media ini menyampaikan bahwa kejadian ini murni disebabkan oleh faktor alam. “Saat longsor terjadi, tidak ada aktivitas pertambangan seperti penggunaan dompeng atau alat berat. Longsor ini akibat hujan deras yang mengguyur beberapa hari terakhir, sehingga bekas galian yang sudah lama ditinggalkan terisi air dan lumpur, lalu runtuh,” ujar keluarga korban.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan bahaya aktivitas pertambangan ilegal dan pentingnya langkah mitigasi untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Penulis: JKM









