Jayapura, Papua — Papuapatrolie-news.com | Gereja di Tanah Papua kembali ditegaskan sebagai agen moral dan profetik dalam menghadapi ketidakadilan struktural, kekerasan terhadap masyarakat adat, dan perampasan hak atas tanah leluhur. Dalam sebuah tulisan teologis yang menggugah, Dr. Yance Nawipa mengajak gereja untuk meneladani suara kenabian seperti nabi Elia dalam menghadapi ketidakadilan yang menimpa Nabot dalam Alkitab (1 Raja-raja 21).
Tulisan yang berjudul “Menolak Ketidakadilan: Suara Kenabian Gereja di Tengah Penindasan di Papua” ini menjadi sorotan dalam Jurnal Akademis Teologis Konteks Papua. Dengan pendekatan kontekstual dan biblis, Nawipa menegaskan bahwa gereja tidak boleh netral dalam situasi ketidakadilan.
“Netralitas di tengah penindasan adalah bentuk keberpihakan pada penindas,” tulisnya tegas.
Dalam artikel tersebut, Nawipa menggambarkan kesamaan antara kisah perampasan kebun anggur milik Nabot oleh Raja Ahab dengan realitas perampasan tanah adat di Papua oleh kekuasaan dan korporasi besar. Ia menyebut bahwa tanah bagi masyarakat Papua bukan sekadar aset ekonomi, melainkan bagian dari identitas spiritual dan warisan leluhur.
Mengutip kisah Nabi Elia yang menegur penguasa lalim dalam 1 Raja-raja 21, Nawipa menekankan tiga fungsi utama gereja sebagai suara kenabian:
1. Fungsi Kritis – Berani menyuarakan kebenaran di hadapan kekuasaan, mengikuti jejak para nabi.
2. Fungsi Advokasi – Membela masyarakat adat, korban kekerasan, dan pemilik tanah yang tergusur.
3. Fungsi Edukasi – Mendidik jemaat tentang hak sosial, nilai-nilai keadilan, dan hukum adat.
Menurut Nawipa, salah satu tantangan terbesar gereja saat ini adalah ketakutan berbicara karena tekanan politik serta ketergantungan pada dana dari pemerintah atau perusahaan.
Di tengah tantangan tersebut, Nawipa menaruh harapan besar pada gereja untuk membangun teologi pembebasan Papua yang berakar pada konteks lokal. Ia juga mendorong peningkatan kapasitas para pendeta dan pelayan gereja dalam memahami misi profetik gereja di tengah krisis kemanusiaan dan lingkungan.
“Jika gereja ingin tetap setia pada panggilannya sebagai garam dan terang dunia, maka suara kenabian tidak bisa ditawar,” tulis Nawipa dalam kesimpulan.
Tulisan ini menjadi pengingat bahwa di tengah penderitaan dan ketidakadilan di Papua, gereja tidak boleh bungkam. Gereja harus berdiri bersama rakyat, menyuarakan keadilan, dan membawa harapan. (Red)









